ADITIARAHARGIAN.COM

The Words of Life

Single Chainring Pada Sepeda Gunung (MTB)

Saya termasuk orang yang sangat menyukai olahraga bersepeda, dan sudah menekuni hobi bersepeda sejak beberapa tahun silam. Meski saya tidak memiliki target untuk menjadi seorang atlet sepeda, namun saya sangat menikmati olahraga ini sebagai sarana untuk berolahraga bahkan rekreasi.

Berbicara soal sepeda, ada banyak jenis sepeda di dunia ini, namun saat ini saya lebih banyak terjun di sepeda gunung atau mountain bike berjenis cross country (XC), karena menurut saya ini adalah jenis sepeda yang paling flexible, mampu melibas medan yang lebih bervariasi baik medan halus (aspal) maupun offroad (ringan), sehingga saya bisa menjangkau lebih banyak tempat yang memiliki medan jalan bervariasi.

Single Chainring Pada Sepeda Gunung (MTB)

Nah, di ranah sepeda gunung sendiri, saya memiliki preferensi atau set-up tersendiri untuk sepeda saya, yang tentunya nyaman untuk saya. Dari banyak set-up yang dapat diaplikasikan di sepeda gunung, salah satu yang saya terapkan adalah sistem single chainring atau banyak juga yang menyebutnya single crank.

Lalu, apa itu single chainring? Bagi, yang baru mulai bermain sepeda mungkin ada yang belum tau, yuk langsung simak saja penjelasan sederhananya berikut ini.

Single chainring, khususnya di sepeda gunung adalah penggunaan satu chainring dengan jumlah mata gigi tertentu pada crankset. Crankset sendiri terdiri dari pedal, lengan ayun (crank), chainring, dan biasanya ada yang mengikutsertakan bottom bracket dalam sebuah paket penjualan crankset. Nah untuk penggunaan chainring pada crankset itu berbeda-beda, kita bisa mengaplikasikan single chainring ataupun multi chainring (Double Chainring / Triple Chainring).

Setiap orang tentunya memiliki set-up sendiri dalam penggunaan chainring ya, tergantung dari kebutuhan dan kenyamanan setiap orang. Untuk saya sendiri lebih memilih mengaplikasikan single chainring dengan jumlah mata gigi 32T pada sepeda saya. Jumlah mata gigi tidak harus menggunakan 32T ya, kamu juga bisa memilih 30T, 34T, atau bahkan 36T, sesuai kebutuhan saja, namun yang paling umum ditemui biasanya 32T atau 34T.

Single Chainring Pada Sepeda Gunung (MTB)

Mengapa memilih single chainring?

Single chainring memiliki beberapa kelebihan yang menurut saya sudah sangat sesuai untuk kebutuhan saya dalam bersepeda. Pada intinya kebutuhan saya dalam bersepeda mengarahkan saya agar menggunakan single chainring, sehingga tak tanggung-tanggung, saya mengaplikasikannya di dua sepeda gunung saya. Terus, apa saja kelebihan itu?

  1. Dari segi bobot, atau berat sepeda, tentunya akan lebih ringan ketimbang multi chainring ya, karena penerapannya yang hanya menggunakan satu chainring, otomatis kita tidak perlu menggunakan FD atau Front Derailleur (pemindah gigi depan) serta shifter lever kiri beserta perkabelannya yang tentunya mengurangi bobot sepeda, biasanya antara 300 sampai 500 gram, jumlah bobot yang mungkin kecil, namun efeknya akan terasa ketika kita bersepeda menanjak.
  2. Dari segi tampilan, sepeda akan terlihat lebih simple dan bersih, karena tidak ada penggunaan Front Derailleur (FD), Shifter Lever sebelah kiri, dan tentunya berkurang satu ruas kabel. Sehingga pada bagian kokpit (handlebar), jalur perkabelan, serta sekitar crankset, akan terlihat lebih simpel. Ground Clearance pun semakin tinggi karena kita tidak menggunakan chainring dengan jumlah mata gigi yang besar.
  3. Penerapan single chainring juga membuat kita semakin cepat beradaptasi dengan medan yang kita lalui saat bersepeda, karena kita tidak perlu memikirkan rasio gear juga chain cross (rantai menyilang parah) karena salah komposisi gear. Jadi ketika kita bersepeda dan bertemu dengan tanjakan ataupun turunan, respon kita untuk menyesuaikan medan akan lebih cepat karena hanya mengoperasikan Shifter Lever kanan untuk memindah gigi belakang saja.
  4. Lebih mudah maintenance sepeda kamu tentunya, karena tidak adanya fungsi FD sehingga kamu tidak perlu lagi seting FD secara berkala, bisa kamu fokuskan ke part lain yang juga membutuhkan pengecekan berkala seperti RD (Rear Derailleur/Pemindah Gigi Belakang). Jadi untuk yang biasa melakukan pengecekan sepeda sendiri, tentunya lebih simpel dan hemat waktu.

Single chainring idealnya dipadukan dengan sprocket (gear belakang) 10 speed, dengan komposisi mata gigi 11T-42T dengan tujuan untuk memperlebar rasio, karena tentunya pilihan rasio gear pada set-up single chainring tidak sebanyak multi chainring. Namun pada kenyataannya banyak yang mengaplikasikan singe chainring 1×9 speed, dengan memilih sprocket 9 speed 11T-42T yang kini mulai banyak beredar di pasaran dan tutorialnya pun sangat mudah ditemukan di youtube. Salah satu pabrikan sepeda luar negeri bahkan merilis MTB dengan set-up single chainring 1×9 speed, yang memadukan crank single chainring 30T dengan sprocket 9 speed 11T-40T. Selain itu, pabrikan sepeda saat ini juga mulai banyak yang menerapkan single chainring sebagai standart sepeda XC Modern yang mereka rilis.

Sekali lagi, set-up single chainring ini tentunya disesuaikan dengan kebutuhan kita dalam bersepeda ya, cocok untuk saya belum tentu cocok untuk orang lain, karena pada dasarnya setiap pesepeda punya kebutuhan dan preferensinya sendiri. Sebagai dasar saya dalam menggunakan set-up ini adalah, saya tidak ingin ribet memikirkan rasio gear, agar saya tidak lambat atau lebih cepat dalam menyesuaikan medan yang saya lalui, sepeda saya pun menjadi terlihat lebih simpel, serta bobot terpangkas meski sedikit. Soal gak dapet speed di medan datar, saya menggunakan sepeda gunung memang tidak pernah terpikirkan untuk mengejar speed, prinsipnya kalau saya mau ngejar speed lebih baik saya menggunakan sepeda jenis lain yang memang lebih pas untuk ngebut, seperti roadbike, atau mungkin bisa juga sepeda lipat.

Intinya, tetap buatlah sepedamu senyaman mungkin untuk kamu, bukan membuat sepedamu menjadi seperti sepeda orang lain, tapi justru tidak nyaman ketika kamu gunakan. Tetap konsisten bersepeda, semoga informasi ini bisa bermanfaat buat kamu ya. Jika ada kekurangan silahkan bisa tinggalkan komentar kamu. Kalau mau follow saya di instagram boleh kok, siapa tau bisa gowes bareng. Instagram : @aditiarahargian

Jalur Gowes Asik Dan Keren

Penting! Pengaturan Quick Release (QR) Pada Sepeda

Pengaturan Quick Release (QR) pada sepeda ternyata mempunyai trik khusus yang harus kita ketahui. Quick Release atau sering disebut QR memang terdengar sepele, namun pengaturan atau pemasangan QR yang tidak sesuai bisa mengakibatkan patah atau justru sepeda tidak stabil karena terlalu kendor.

Penting! Pengaturan Quick Release (QR) Pada Sepeda

Quick Release adalah sistem mekanisme yang fungsinya membuka atau menutup sistem penguncian secara cepat tanpa bantuan alat khusus, memiliki mekanisme jepit untuk mengunci suatu komponen tertentu pada sepeda. Untuk sepeda masa kini, sistem QR tidak hanya digunakan pada bagian as roda sepeda, tetapi juga dipakai pada komponen lain seperti Seatpost (penyangga sadel), Stem, Axle Lipatan (pada sepeda lipat), aksesoris tambahan seperti Bottle Cage, dan lainnya.

Penting! Pengaturan Quick Release (QR) Pada Sepeda

QR biasanya terbuat dari silinder berdiameter kecil bermaterial logam yang menjaga roda sepeda atau komponen lain tetap pada porosnya atau terkunci sebagaiamana mestinya.

Nah, bagaiman sih cara mengatur atau memasang QR, agar setiap komonen sepeda yang menggunakan QR tetap berfungsi dengan normal?

Penting! Pengaturan Quick Release (QR) Pada Sepeda

🗸 Pastikan QR dalam posisi Open atau terbuka

🗸 Putar tuas QR searah jarum jam hingga maksimal atau tidak dapat diputar lagi.

🗸 Jika sudah maksimal, kita putar kembali berlawanan arah sebanyak 2-3 kali putaran (disesuaikan dengan tipe fork atau QR).

🗸 Kunci tuas QR, pastikan posisi tuas sedikit menjauh dari fork atau kaliper disc brake untuk memudahkan saat kita membukanya kembali.

Penting! Pengaturan Quick Release (QR) Pada Sepeda

Cara mengatur atau memasang QR diatas dianggap yang paling ideal, tentunya agar penguncian menjadi maksimal, dan sepeda tidak mengalami gangguan saat digunakan. Mungkin masih banyak dari kita yang memasang QR hanya berdasarkan perkiraan saja, kadang kita takut terlalu kencang atau bahkan terlalu kendor. Nah cara sederhana di atas bisa dijadikan patokan untuk kita agar kita yakin saat memasang QR pada sepeda dan tentunya menjadi lebih aman.

Pengalaman pribadi, roda depan sepeda mengalami trouble akibat QR tiba-tiba terbuka. Jadi, menurut saya, QR ini meskipun terkesan sepele, penting untuk kita perhatikan, harus selalu dicek sebelum kita menggunakan sepeda.

AYO NAIK SEPEDA

(United Official / Sepeda.me)

Open chat
Ada yang ingin ditanyakan?